Lebih dari itu, platform digital yang selama ini menikmati keuntungan ekonomi dari perdagangan hewan kurban tidak bisa terus berlindung di balik klaim “penyedia sarana.” Jika mereka memperoleh manfaat dari ekosistem ini, mereka juga wajib menanggung tanggung jawab atas validitas informasi yang ditampilkan kepada konsumen. Tanpa pengawasan digital yang ketat, ruang online akan terus menjadi lahan paling subur bagi praktik manipulasi musiman.

Transformasi ekosistem kurban nasional harus bergerak secara menyeluruh.

Sertifikasi kesehatan digital, pelatihan juru sembelih bersertifikat, edukasi konsumen yang terstruktur, hingga mekanisme pengaduan yang mudah diakses harus menjadi bagian dari agenda besar yang tidak boleh ditunda. Pemerintah, otoritas keagamaan, pelaku usaha, dan platform digital perlu duduk bersama—bukan hanya menjelang Idul Adha, tetapi sepanjang tahun—untuk membangun ekosistem yang benar-benar melindungi konsumen.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak sedang membeli seekor kambing atau sapi semata.

Mereka sedang membeli ketenangan batin. Mereka sedang membeli keyakinan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan mengalir ke ibadah yang dijalankan dengan benar, jujur, dan bermartabat. Ketika kepercayaan itu dikhianati—melalui foto palsu, bobot yang dimanipulasi, atau hewan sakit yang disembunyikan cacatnya—yang rusak bukan hanya transaksi bisnis biasa.