Dari 400 mitra pengepul yang bermitra dengan koperasi ini, sekitar separuhnya adalah pengepul besar. Mereka mampu mengirim satu truk penuh berisi 500 hingga 700 kilogram plastik dalam sekali pengiriman, bahkan bisa tiga hingga empat kali dalam seminggu. Sementara itu, pengepul kecil biasanya mengirim satu hingga dua kuintal per pengiriman, dengan frekuensi sekali seminggu.
Nilai ekonominya pun terasa konkret. Seorang pengepul kecil yang mengirim 200 kilogram botol bening bisa langsung mengantongi sekitar Rp1 juta dalam sekali setor. Untuk pengepul besar yang rutin mengirim beberapa bundel dalam seminggu, penghasilan mereka bisa jauh lebih signifikan.
Koperasi juga menerapkan edukasi kepada mitra pengepulnya soal standar plastik yang diterima. Botol yang ideal adalah yang bebas air, bebas label, sudah tidak bertutup, tidak terbakar, dan bebas dari cat atau warna yang sulit dihilangkan. Standar ini penting untuk menjaga kualitas produk akhir yang akan dijual ke industri.
Model bisnis yang terus berkembang ini mendorong koperasi untuk membuka cabang di berbagai wilayah. Saat ini sudah terdapat lima cabang yang beroperasi, yaitu di Serpong, Labuhan Bajo, Bekasi, Sukabumi, dan Bogor. Masing-masing cabang memiliki kapasitas dan omzet yang berbeda. Cabang di Bekasi, misalnya, mampu mengumpulkan hingga 20 ton plastik per bulan dengan omzet berkisar antara Rp50 juta hingga Rp200 juta.
Bagi para pelaku di lapangan, dampak koperasi ini sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Seorang mitra pengepul mengisahkan bagaimana penghasilannya dari bisnis ini memungkinkan anaknya membuka lapak sendiri di Tangerang, sementara anak bungsunya kini menjalankan usaha konter dan laundry. Dari hasil kerja keras mengumpulkan plastik, ia bahkan bisa membantu renovasi rumah orang tua di kampung halaman.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.