Pemerintah kini mendorong model Al Ittifaq untuk direplikasi secara luas di berbagai daerah melalui skema kolaborasi antara koperasi yang telah matang secara digital dengan Kopdes Merah Putih yang tengah berkembang. Mekanisme ini diharapkan mempercepat transfer pengetahuan sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan koperasi-koperasi yang baru tumbuh.
Aspek keberlanjutan turut masuk dalam kerangka program ini. Praktik pemanfaatan limbah produksi sebagai pakan ternak dan penguatan rantai pasok berbasis sumber daya lokal dianggap sebagai pendekatan yang mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas, sehingga pada akhirnya memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Generasi muda, terutama siswa sekolah menengah kejuruan, juga diposisikan sebagai aktor penting dalam ekosistem ini. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut berperan dalam inovasi model bisnis koperasi di wilayah masing-masing.
“Strateginya adalah memperluas praktik baik yang sudah terbukti. Koperasi yang kuat akan menjadi fondasi ekonomi yang tangguh,” kata Meutya.
CEO Koperasi Al Ittifaq, Setia Irawan, mengamini arah kebijakan tersebut. Menurutnya, digitalisasi telah menjadi tulang punggung strategi pengembangan koperasi yang ia pimpin, bukan semata demi efisiensi bisnis, melainkan demi meningkatkan taraf hidup petani yang bermitra dengan koperasi sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
“Kami membuka kesempatan bagi generasi muda untuk belajar langsung, sehingga tercipta SDM pertanian yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” kata Setia.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.