JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menetapkan percepatan transformasi digital Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih sebagai salah satu prioritas strategis dalam agenda penguatan ekonomi berbasis komunitas desa. Program ini diarahkan pada tiga pilar utama: efisiensi operasional koperasi, integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir, serta perluasan akses pasar bagi pelaku usaha lokal yang selama ini terbatas oleh ketiadaan infrastruktur digital.
Menteri Komdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa digitalisasi yang dimaksud bukan sekadar adopsi perangkat teknologi, melainkan perubahan mendasar dalam cara koperasi beroperasi dan menciptakan nilai. Pesan itu ia sampaikan secara langsung saat meninjau Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq di kawasan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 26 April 2026.
“Digitalisasi harus berdampak langsung: lebih efisien, pasar makin luas, dan usaha koperasi makin kuat,” ujar Meutya di hadapan pengurus koperasi dan mitra usaha setempat.
Koperasi Al Ittifaq dipilih sebagai objek kunjungan bukan tanpa alasan. Lembaga yang berada di bawah naungan pesantren ini dinilai telah berhasil membangun ekosistem usaha yang terintegrasi secara digital, mulai dari perencanaan produksi pertanian, pengendalian kualitas, hingga distribusi produk ke mitra pasar. Sistem manajemen berbasis teknologi yang diterapkan terbukti meningkatkan akurasi perencanaan, menjaga konsistensi pasokan, dan mempererat kepercayaan mitra distribusi.
Pemerintah kini mendorong model Al Ittifaq untuk direplikasi secara luas di berbagai daerah melalui skema kolaborasi antara koperasi yang telah matang secara digital dengan Kopdes Merah Putih yang tengah berkembang. Mekanisme ini diharapkan mempercepat transfer pengetahuan sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan koperasi-koperasi yang baru tumbuh.
Aspek keberlanjutan turut masuk dalam kerangka program ini. Praktik pemanfaatan limbah produksi sebagai pakan ternak dan penguatan rantai pasok berbasis sumber daya lokal dianggap sebagai pendekatan yang mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas, sehingga pada akhirnya memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Generasi muda, terutama siswa sekolah menengah kejuruan, juga diposisikan sebagai aktor penting dalam ekosistem ini. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut berperan dalam inovasi model bisnis koperasi di wilayah masing-masing.
“Strateginya adalah memperluas praktik baik yang sudah terbukti. Koperasi yang kuat akan menjadi fondasi ekonomi yang tangguh,” kata Meutya.
CEO Koperasi Al Ittifaq, Setia Irawan, mengamini arah kebijakan tersebut. Menurutnya, digitalisasi telah menjadi tulang punggung strategi pengembangan koperasi yang ia pimpin, bukan semata demi efisiensi bisnis, melainkan demi meningkatkan taraf hidup petani yang bermitra dengan koperasi sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
“Kami membuka kesempatan bagi generasi muda untuk belajar langsung, sehingga tercipta SDM pertanian yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” kata Setia.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.