Pada 2023, Lazismu bersama BAZNAS kembali menjalankan pelayanan kesehatan gratis di kawasan terpencil Maluku dengan keterlibatan tim KAST. Ini penting dicatat: KAST bukan proyek yang hanya ramai ketika baru diresmikan lalu perlahan dilupakan. Enam tahun setelah peluncurannya, kapal itu masih berlayar.

Tentu saja, klinik apung bukan mujarab untuk seluruh persoalan kesehatan di daerah terpencil. Kapasitas kapal terbatas. Biaya operasional perjalanan laut tidak murah. Masyarakat di kepulauan tetap membutuhkan puskesmas yang kuat, tenaga kesehatan yang menetap, dan sistem rujukan yang andal.

Namun KAST mengisi celah yang nyata: jarak. Ketika masyarakat sulit datang menuju fasilitas kesehatan, layanan bergerak bisa memperpendek hambatan itu. Dokter, , dan bantuan bisa lebih dahulu mendatangi wilayah yang selama ini berada jauh dari pusat pelayanan. Dalam konteks kepulauan, pendekatan ini bukan kemewahan—ini kepraktisan.

Di sinilah angka Rp 2 miliar tadi perlu dilihat dari sisi yang berbeda. Sebuah aset memang bisa terlihat mahal apabila hanya dinilai dari bentuk fisik dan harganya. Penilaiannya berubah ketika aset tersebut digunakan berulang kali—membawa dokter, , pendidikan, dan bantuan kepada ribuan orang di berbagai pulau selama bertahun-tahun.

Dana yang dikumpulkan dari masyarakat tidak semuanya diwujudkan sebagai bantuan yang langsung habis setelah dibagikan. Sebagian diubah menjadi sarana yang bisa dipakai berkali-kali untuk berbagai misi kemanusiaan. Satu kapal, banyak ekspedisi, manfaat yang terus bertambah.



Follow Widget