Di satu wilayah, warga paling membutuhkan layanan medis. Di tempat lain, persoalannya lebih pada pendidikan anak atau sarana produksi petani dan nelayan. Karena itu, muatan KAST pun berkembang lebih dari sekadar dan tenaga dokter. Bantuan sembako, perlengkapan sekolah, alat pertanian, hingga dukungan untuk kegiatan perikanan ikut dibawa dalam berbagai ekspedisi.
Di Negeri Kulur, Saparua, relawan yang datang bersama KAST bahkan terlibat dalam menghidupkan kembali Taman Pendidikan Al-Qur’an yang sempat tidak aktif. Satu perjalanan kapal bisa membawa lebih dari satu jenis manfaat. Bukan karena ingin terlihat serba bisa, melainkan karena kebutuhan masyarakat memang tidak datang dalam satu warna.
Yang penting dicatat: layanan KAST tidak dibatasi untuk warga Muhammadiyah atau kelompok agama tertentu saja. Program kemanusiaannya terbuka untuk semua, tanpa memandang latar belakang. Di Maluku, dengan masyarakat yang beragam secara agama dan budaya, prinsip ini bukan formalitas. Ini fondasi.
Salah satu contoh nyata adalah distribusi panel surya. Bantuan tidak hanya diberikan kepada masjid, tetapi juga kepada gereja yang membutuhkan akses energi. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa KAST menjalankan misinya berdasarkan kebutuhan, bukan identitas penerima.
Operasional KAST juga tidak berjalan sendiri. Lazismu menjadi penggerak utama, sementara jaringan kesehatan Muhammadiyah serta sejumlah lembaga filantropi turut mendukung. Pelayanan ke wilayah terpencil membutuhkan tenaga, logistik, dan biaya yang tidak sedikit. Kolaborasi menjadi syarat, bukan pilihan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.