Presiden Joko Widodo meresmikan KAST di Ambon pada 24 Februari 2017, bersamaan dengan penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah. Satu hari setelah peresmian, kapal langsung menjalankan misi pertamanya menuju Saparua dan Haruku di Maluku Tengah. Tidak ada waktu yang terbuang untuk sekadar seremoni.
Dalam pelayaran perdana itu, KAST membawa tiga dokter, lima perawat, dan seorang apoteker dari jaringan kesehatan Muhammadiyah. Semua pelayanan diberikan secara gratis kepada warga. Bagi sebagian masyarakat di pulau-pulau tersebut, itulah pertama kalinya mereka diperiksa dokter tanpa harus menyeberangi laut terlebih dahulu.
Nama Said Tuhuleley yang melekat pada kapal ini bukan sekadar penghormatan simbolis. Said lahir di Kulur, Saparua, Maluku Tengah, pada 22 Mei 1953. Ia dikenal aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat di lingkungan Muhammadiyah, termasuk pernah memimpin Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah. Ia meninggal pada 9 Juni 2015 dalam usia 62 tahun.
Kira-kira dua tahun setelah kepergiannya, namanya diabadikan pada kapal yang meneruskan semangat pengabdiannya. Arah kerja KAST—membawa layanan langsung ke masyarakat yang jauh dari pusat pelayanan—sejalan dengan prinsip pemberdayaan yang selama bertahun-tahun menjadi jiwa dari aktivitas Said Tuhuleley.
Setelah pelayaran perdana ke Saparua dan Haruku, KAST terus memperluas jangkauannya. Banda Besar, Banda Neira, Hatta, Rhun, hingga Pulau Ay menjadi sebagian dari wilayah yang pernah disambangi. Setiap singgahan membawa cerita yang berbeda, karena kebutuhan setiap pulau pun tidak selalu sama.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.