Rumah baru itu akan dibangun dengan model panggung—ditinggikan sekitar satu meter dari permukaan tanah agar terbebas dari banjir musiman. Selama proses pembangunan berlangsung, Darsih akan tinggal sementara di rumah kontrakan yang biayanya ditanggung Dedi. Ia memastikan ada pilihan sewa dengan harga terjangkau di sekitar desa itu.

“Nanti rumahnya dibangun panggung, supaya kalau banjir tidak kena. Kamarnya juga akan dibuat modern,” kata Dedi. Ia menggambarkan rencana itu dengan antusias, seolah ingin memastikan bahwa Darsih benar-benar bisa membayangkan perubahan yang akan segera terjadi.

Sebelum beranjak, Dedi juga menyinggung kondisi jalan provinsi yang melintasi kawasan Rengasdengklok. Ia menegaskan bahwa tahun depan jalan tersebut akan dilebarkan, dilengkapi drainase, CCTV, dan fasilitas pendukung lainnya. Warga diminta bersiap: siapa pun yang mendirikan bangunan di atas garis sempadan jalan akan ditertibkan.

Kunjungan itu juga diwarnai suasana yang mengharukan sekaligus hangat. Seorang warga tua yang dulunya penyanyi sinden tampil menyanyikan lagu-lagu Sunda klasik, disambut sorak-sorai warga yang memadati gang sempit. Dedi ikut bernyanyi, tertawa, dan bercanda bersama warga—momen yang tidak biasa untuk seorang gubernur yang sedang dalam perjalanan dinas ke ibu kota.

Namun di balik kehangatan itu, kisah Darsih meninggalkan pertanyaan yang lebih dalam. Di usianya yang sudah 65 tahun, dengan tubuh yang masih ia paksa bekerja mengupas kacang demi Rp10.000 sehari, ia tidak pernah meminta dikasihani. Rumahnya hampir roboh, tapi ia menyapunya setiap hari. Piring-piringnya retak di sana-sini, tapi ia mencucinya bersih.



Follow Widget