Dedi menelusuri setiap sudut rumah itu dengan seksama. Rak piring dari kayu sederhana tampak bersih dan teratur. Pakaian yang tersisa—tidak banyak—disimpan rapi meski lemari sudah tak bisa dikunci lagi karena kuncinya hilang. Di sudut ruangan yang lain, tergantung foto lama: Darsih muda bersama suaminya, keduanya tampak gagah dan cantik. Sebuah pengingat bahwa kemiskinan tidak datang sejak lahir.

“Dulu ibu tidak sesulit ini,” kata Darsih pelan. Suaminya bekerja sebagai pengelola organda setempat. Kehidupan berjalan cukup baik. Tapi waktu mengubah segalanya.

Rumah yang ia tempati kini berdiri di atas tanah warisan keluarga. Ada surat-suratnya, ada kikitir-nya. Namun kondisi fisik bangunannya sudah sangat mengkhawatirkan. Sebagian atap telah runtuh. Jika hujan turun, air menggenang masuk. Darsih tidur berpindah-pindah: saat kering, ia tidur di satu sisi ruangan; saat hujan, ia pindah ke bagian lain yang masih sedikit terlindung.

Rumah itu juga berdiri di tepi sungai yang rentan banjir. Program pengerukan sungai sudah direncanakan, namun belum terlaksana. Jembatan kecil di dekat rumahnya sudah dibongkar untuk persiapan pembangunan baru, namun sungai sendiri belum dikeruk. Akses jalan menuju rumahnya pun terbatas—tidak ada jalan yang memadai menuju tepi sungai itu.

Dedi tidak sekadar mengunjungi dan pergi. Di hadapan warga yang berkumpul, ia mengumumkan keputusannya secara langsung: rumah Darsih akan dibangun ulang mulai hari Rabu. Bukan dengan uang tunai yang diserahkan, melainkan dengan tim pekerja yang langsung turun tangan.



Follow Widget