Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Sudaryono ingin memisahkan tanggung jawab moralnya sebagai individu dari mekanisme birokrasi yang seringkali lamban. Langkah ini mendapat respons positif dari pihak keluarga korban yang hadir.

Di sela kunjungan, Sudaryono juga berbicara kepada para koordinator lapangan dan pengelola dapur penyedia MBG yang ikut mendampingi. Ia menekankan bahwa tanggung jawab utama atas kualitas makanan ada di tangan pengelola dapur — mulai dari proses memasak, pemilihan bahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.

Ia meminta agar standar operasional prosedur (SOP) segera dirampungkan dan diterapkan secara ketat. Menurutnya, makanan dalam program MBG harus memenuhi tiga kriteria sekaligus: bergizi, aman, dan enak. Ketiga hal itu tidak bisa dikorbankan salah satunya.

“Makanan harus seperti makanan di rumah sakit — sehat. Tapi juga harus enak,” ujarnya. Ia mencontohkan, cilok memang enak, tetapi tidak bergizi. Standar MBG harus melampaui itu.

Sudaryono juga menyinggung pentingnya kedisiplinan di dapur. Ia meminta pengelola untuk tidak ragu menegur atau bahkan mengganti tenaga yang tidak mengikuti prosedur yang berlaku. Baginya, satu kelalaian kecil di dapur bisa berujung pada bencana seperti yang baru saja terjadi.



Follow Widget