Bagi Kapolda Awal Chairuddin, yang menyandang gelar doktor dan berlatar belakang akademis yang kuat, pendekatan berbasis komunitas seperti ini tampaknya menjadi salah satu prioritas kepemimpinannya. Kehadiran fisik di tengah warga—bukan hanya dalam acara seremonial resmi—mencerminkan gaya kepemimpinan yang menekankan kedekatan, bukan jarak.

Di sisi lain, respons jamaah yang hadir pada subuh itu pun hangat. Kesempatan berdialog langsung dengan pemimpin polisi daerah tidak datang setiap hari. Ada yang menyampaikan harapan tentang keamanan di lingkungan masing-masing, ada pula yang sekadar merasa lebih percaya diri bahwa aparat memang hadir dan peduli.

Makassar, sebagai kota terbesar di kawasan timur Indonesia, selalu menjadi barometer kondisi keamanan dan sosial di wilayah ini. Menjaga stabilitas di kota sebesar ini memerlukan lebih dari sekadar kekuatan operasional—dibutuhkan legitimasi sosial yang dari bawah, dari percakapan di beranda masjid, dari jabat tangan selepas salat.

Safari Subuh yang digelar Kapolda Sulsel dan jajaran PJU-nya pada Sabtu pagi itu mungkin terlihat sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan filosofi yang dalam: bahwa keamanan sejati tidak dibangun di balik meja atau di balik seragam, melainkan di tengah-tengah masyarakat, dalam waktu-waktu yang paling sunyi sekalipun—seperti subuh, ketika kota masih tidur dan langit belum sepenuhnya terang.



Follow Widget