Momen Safari Subuh kali ini juga menjadi ruang nostalgia bagi Irjen Awal Chairuddin. Di hadapan jamaah, ia mengisahkan kenangan masa kecilnya—suasana subuh yang sunyi, azan yang menggema di kampung, dan pergi ke masjid bersama orang tua. Kisah sederhana itu menjadi jembatan yang memperdekat jarak antara seorang jenderal bintang dua dengan warga biasa yang mendengarkan.
Pendekatan yang diambil Polda Sulsel lewat program Safari Subuh ini memang tidak lazim di mata sebagian orang. Kepolisian, yang acap kali hadir dalam citra tegas dan formal, memilih masjid sebagai ruang dialog. Langkah ini merefleksikan strategi yang lebih humanis dalam membangun kepercayaan publik—sesuatu yang tak bisa dicapai hanya lewat patroli atau pengumuman resmi.
Dalam konteks keamanan wilayah, Sulawesi Selatan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dinamika sosial di sejumlah daerah, potensi konflik komunal, hingga ancaman gangguan ketertiban menuntut respons yang tidak melulu bersifat reaktif. Kehadiran tokoh kepolisian di masjid, berbaur dengan jamaah, berdoa dalam saf yang sama, adalah bentuk pencegahan yang bekerja di tingkat paling mendasar: membangun kepercayaan.
Para PJU yang menyebar ke masjid-masjid lain juga mengemban misi serupa. Di Masjid Baiturrahman, At-Taqwa, dan Syura, pesan Kamtibmas disampaikan dengan nada yang sama—mengajak warga menjaga kerukunan, melaporkan potensi gangguan, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Di era ketika hoaks bisa memantik ketegangan dalam hitungan jam, imbauan semacam itu terasa sangat kontekstual.
Safari Subuh bukan program baru dalam khazanah kepolisian Indonesia, namun Polda Sulsel menjadikannya lebih terstruktur. Dengan melibatkan seluruh jajaran PJU dan menyasar beberapa masjid sekaligus dalam satu waktu, kegiatan ini memiliki jangkauan yang lebih luas dibanding kunjungan tunggal. Efek multiplier-nya pun terasa: dalam satu subuh, ribuan jamaah di berbagai penjuru Makassar menerima pesan yang sama.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.