JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengambil langkah konkret untuk memperbaiki hubungan antara institusi kepolisian dan warga negara. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, ia secara resmi meluncurkan logo baru serta Posko Polisi Bersama Masyarakat—sebuah inisiatif yang diklaim sebagai wujud nyata transformasi pelayanan publik Polri di tengah tuntutan masyarakat yang kian kritis terhadap kinerja aparat penegak hukum.

Peluncuran ini bukan sekadar seremoni pergantian simbol. Di balik logo baru itu tersimpan pesan yang ingin disampaikan Polri kepada publik: bahwa kehadiran polisi bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipercaya. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, hadir langsung menyampaikan makna di balik langkah tersebut.

“Logo Polisi Bersama Masyarakat dan peresmian posko ini harus dimaknai sebagai komitmen bersama untuk semakin mendekatkan Polri dengan masyarakat,” kata Isir dalam keterangannya, Selasa siang.

Isir menjelaskan, logo yang baru diluncurkan itu dirancang bukan sembarangan. Setiap elemen visual memiliki filosofi tersendiri. Simbol jabat tangan yang menjadi bagian dari desain logo merepresentasikan kepercayaan dan kerja sama antara polisi dan warga. Sementara siluet polisi yang berdampingan dengan masyarakat mencerminkan keyakinan bahwa keamanan dan ketertiban tidak bisa hanya ditanggung oleh satu pihak—melainkan hasil dari keterlibatan semua elemen.

Gagasan ini bukan hal baru dalam dunia kepolisian. Konsep community policing atau polisi berbasis masyarakat telah lama diterapkan di berbagai negara sebagai strategi efektif menekan angka kriminalitas sekaligus memperkuat kepercayaan publik. Indonesia, dengan segala kompleksitas sosial dan geografisnya, rupanya kini berupaya mengadaptasi pendekatan serupa secara lebih serius dan terstruktur.



Follow Widget