Ketika MSCI mengevaluasi komposisi indeksnya, yang dipertaruhkan adalah posisi saham-saham Indonesia di mata investor global. Perubahan penilaian—apalagi jika berujung pada penurunan bobot atau penyesuaian status pasar—bisa memicu arus keluar modal asing secara signifikan. Ini bukan sekadar angka di layar terminal bursa; ini soal kepercayaan.
Tekanan yang hari itu terasa begitu dalam. Dari 208 saham yang aktif diperdagangkan, sebanyak 65 saham ditutup turun, hanya 100 yang berhasil menguat, dan 43 stagnan. Seluruh indeks sektoral kompak melemah tanpa pengecualian. Sektor bahan baku mencatat penurunan paling dalam, yakni 4,57 persen, diikuti sektor infrastruktur yang terkoreksi 4,45 persen, serta sektor barang konsumen siklikal yang turun 4,09 persen.
Volume perdagangan hari itu terbilang besar. Total 33,15 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp24,82 triliun—angka yang mencerminkan betapa aktifnya pergerakan dana di tengah kepanikan.
Guncangan tidak berhenti di pasar saham. Nilai tukar rupiah ikut terpukul. Rupiah spot ditutup turun 0,11 persen ke level Rp18.000,86 per dolar Amerika Serikat pada hari yang sama. Angka ini muncul bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS yang naik ke posisi 102,03 dari sebelumnya 101,83—menambah beban bagi mata uang-mata uang di kawasan Asia.
Di Asia, tekanan nilai tukar tidak merata. Baht Thailand melemah 0,52 persen, dolar Taiwan terkoreksi 0,33 persen. Namun Won Korea Selatan dan yuan Tiongkok justru bergerak berlawanan arah: keduanya menguat terhadap dolar AS. Situasi ini menunjukkan bahwa gejolak yang dialami rupiah tidak semata-mata dipicu faktor global—ada dinamika domestik yang turut berperan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.