Kinerja program SPHP beras sepanjang tahun ini terbilang luar biasa. Realisasi sejak Januari hingga Mei 2026 telah mencapai 507 ribu ton. Angka ini terdiri dari 221 ribu ton yang merupakan perpanjangan SPHP beras tahun 2025, ditambah 286 ribu ton dari realisasi periode Maret hingga Mei 2026.

Yang paling mencolok, realisasi 507 ribu ton tersebut melonjak 180 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagai perbandingan, realisasi SPHP beras hingga Mei 2025 baru menyentuh angka 181 ribu ton — selisih yang sangat signifikan dan mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan.

Program bantuan pangan beras dan minyak goreng juga telah berjalan dengan cakupan yang luas. Hingga akhir Mei 2026, Perum Bulog telah menyalurkan bantuan kepada 15,4 juta keluarga penerima manfaat. Capaian ini semakin berarti mengingat program serupa pada Mei 2025 belum berjalan sama sekali.

Seluruh pasokan beras yang digunakan dalam program intervensi pemerintah bersumber dari panen dalam negeri — sebuah fakta yang patut digarisbawahi di tengah tren impor pangan yang kerap menjadi perdebatan. Realisasi pengadaan setara beras dari dalam negeri oleh Bulog hingga menjelang tutup Mei 2026 hampir menyentuh 3 juta ton, melampaui realisasi Januari–Mei 2025 yang berkisar 2,5 juta ton.

Sebagai pelengkap, pemerintah juga menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai bentuk intervensi langsung di tingkat masyarakat. Hingga penghujung Mei 2026, GPM telah terlaksana sebanyak 5.037 kali di 417 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Angka ini jauh melampaui realisasi GPM pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat di 3.482 kegiatan.