Pertanyaan yang kemudian menggantung adalah: siapa yang meraup untung di tengah penderitaan dua belah pihak itu?
Amran meyakini jawabannya terletak pada praktik di lapisan tengah rantai distribusi. Bukan sekadar soal pasokan yang berlebih atau permintaan yang lesu, melainkan ada aktor-aktor tertentu yang menekan harga di tingkat peternak serendah mungkin sambil menjaga harga tetap tinggi di konsumen akhir. Pola seperti inilah yang ia sebut tidak boleh lagi diberi ruang.
Kekhawatiran Amran bukan tanpa dasar historis. Ia menarik analogi dari sektor susu nasional yang menurutnya sudah terjebak dalam jerat ketergantungan impor. Dulu, kata Amran, harga susu impor dijual murah secara sistematis hingga peternak sapi perah lokal bertumbangan satu per satu. Kini, lebih dari 82 persen kebutuhan susu nasional dipasok dari luar negeri. Angka itu bisa mencapai 100 persen dalam tiga tahun ke depan jika tidak ada intervensi serius.
“Ayam juga gitu,” tegasnya. Ia khawatir pola yang sama tengah dijalankan di industri unggas—mematikan peternak kecil terlebih dahulu, lalu ketika pasar sudah kosong dari pesaing lokal, pelaku usaha besar kembali menguasai segalanya dengan harga sesuka hati.
Amran menyebut sekitar 4,8 juta peternak kecil saat ini berada dalam tekanan. Mereka tidak punya kekuatan tawar yang memadai untuk permainan harga. Tidak ada posisi negosiasi yang kuat ketika kandang sudah penuh, biaya pakan terus menumpuk, dan harga jual yang ditawarkan tengkulak jauh dari titik impas.
Pemerintah, diakui Amran, tidak tinggal diam. Badan Gizi Nasional telah dikerahkan untuk menyerap sebagian produksi peternak. Upaya itu dimaksudkan untuk menahan kejatuhan harga lebih dalam di tingkat produsen. Namun penyerapan itu belum cukup untuk mengatasi akar persoalan yang lebih struktural.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.