“Minum susu hari ini, pinternya tidak langsung besok. Tapi bertahap, lama-lama jadi tambah pintar, orangnya tambah kuat,” ujarnya. Ia menekankan satu kata yang ia sebut tiga kali berturut-turut dengan penuh penekanan: “Protein, protein, protein.”

Pesan itu sederhana, tetapi konteksnya besar. Indonesia masih bergulat dengan masalah stunting dan kekurangan gizi yang menghambat potensi generasi muda. Susu, dengan kandungan proteinnya yang tinggi dan mudah diserap tubuh, dipandang sebagai salah satu senjata paling efektif untuk memerangi masalah ini secara masif.

Hari Susu Nusantara 2026 pun bukan sekadar peringatan tahunan yang berlalu begitu saja. Di tangan Sudaryono dan pemerintahan Prabowo, momen ini ingin dijadikan titik balik — awal dari revolusi susu yang sesungguhnya, yang mengalir dari kandang ke meja makan, dari desa ke kota, dan dari generasi hari ini ke generasi Indonesia Emas 2045.