Yang menarik, gagasan ini ternyata bukan hal baru bagi Prabowo. Jauh sebelum menjabat sebagai Presiden atau bahkan Menteri Pertahanan, Prabowo sudah menggagas apa yang disebut sebagai Gerakan Revolusi Putih — sebuah gerakan berbasis partai Gerindra yang mendorong pemenuhan gizi masyarakat melalui konsumsi susu. Sudaryono menyebutnya sebagai bukti bahwa perhatian terhadap isu susu dan gizi masyarakat sudah mengakar lama dalam visi kepemimpinan Prabowo.

Kini, di bawah payung pemerintahan yang sama, gagasan itu bertransformasi menjadi kebijakan nyata dengan skala yang jauh lebih besar.

Tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia hari ini adalah keterbatasan jumlah sapi perah hidup. Sudaryono mengakui bahwa meski teknologi reproduksi dan bank sperma sapi sudah tersedia, populasi ternak hidup masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi susu nasional.

“Kita ini kurang sapi induknya. Sperma dan bank sperma sudah punya banyak. Baik untuk daging maupun susu, yang kurang itu sapi hidupnya. Memang mesti kita datangkan,” jelasnya gamblang.

Untuk menutup celah itu, pemerintah tengah mendorong investasi dari sektor swasta maupun BUMN untuk mendatangkan sapi perah dari luar negeri. Sejumlah komitmen investasi sudah mulai mengalir — ada yang menyatakan siap mendatangkan 10 ribu ekor, ada pula yang 5 ribu ekor. Angka-angka yang tidak kecil untuk ukuran sektor persusuan nasional.