Sudaryono pun tak mau sekadar memberi instruksi dari kursi birokrasi. Sebagai Ketua Umum HKTI, ia menyatakan HKTI akan memulai langkah nyata dengan mendatangkan 100 hingga 200 ekor sapi perah sebagai percontohan.

Lokasi pengembangan sapi perah juga bukan sembarang tempat. Sudaryono menekankan pentingnya memilih kawasan dataran tinggi beriklim sejuk sebagai habitat ideal ternak penghasil susu. Beberapa daerah yang sudah terbukti cocok antara lain Lembang di Jawa Barat, Boyolali, Baturaden, serta Pasuruan dan Blitar di Jawa Timur.

Namun pemerintah tidak berhenti di situ. Sebuah opsi menarik sedang dijajaki: mendatangkan sapi perah tropis dari Brasil yang diklaim lebih adaptif terhadap kondisi iklim Indonesia yang panas dan lembap. Uji coba ini menjadi bagian dari upaya mencari solusi jangka panjang agar pengembangan sapi perah tidak harus selalu bergantung pada wilayah bersuhu dingin.

“Kita lagi uji coba, katanya ada sapi perah tropis dari Brasil. Intinya adalah bagaimana sapinya tambah banyak, susunya diproduksi tambah banyak, dan diminum lebih banyak. Itu saja,” kata Sudaryono menutup penjelasannya dengan nada lugas.

Di sisi konsumsi, Sudaryono mengingatkan bahwa manfaat susu tidak bekerja seperti obat instan yang langsung terasa khasiatnya. Namun justru di situlah kekuatannya — dampaknya bersifat akumulatif dan jangka panjang.