Kerajaan Sriwijaya memang bukan nama sembarangan. Berpusat di sekitar wilayah Palembang dan berkembang sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, Sriwijaya menjadi kekuatan politik, perdagangan, dan keagamaan yang pengaruhnya menjangkau Selat Malaka, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga penjuru Asia Tenggara. Jejak kejayaannya terdokumentasi dalam catatan perjalanan pendeta Tiongkok I-Tsing serta berbagai prasasti seperti Kedukan Bukit dan Talang Tuwo.
Ketentuan formal soal penamaan kapal perang ini tercantum dalam Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor K/976/VII/2006. Regulasi itu lahir untuk menciptakan keseragaman kategori nama berdasarkan jenis kapal. Kapal induk, sebagai wahana puncak kekuatan proyeksi laut, memperoleh tempat istimewa: wajib dinamai sesuai kerajaan maritim besar yang pernah menguasai jalur pelayaran Nusantara.
Dalam sambutannya, Jenderal Agus Subiyanto menegaskan bahwa kehadiran KRI Sriwijaya di jajaran TNI Angkatan Laut bukan sekadar penambahan alutsista. Ini adalah wujud nyata modernisasi kekuatan pertahanan laut Indonesia di tengah lingkungan strategis yang semakin kompleks. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia membutuhkan kekuatan laut yang modern dan tangguh.
Panglima TNI juga menyebut KRI Sriwijaya 100 akan berfungsi sebagai pusat komando operasi laut yang andal, sekaligus sarana diplomasi pertahanan dan bantuan kemanusiaan di tingkat nasional, regional, maupun global. Kapal ini bukan hanya alat tempur, melainkan juga simbol kehadiran Indonesia di lautan internasional.
Upacara peresmian dihadiri sejumlah tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri. Duta Besar Italia untuk Indonesia, Mr. Roberto Salamina, hadir menyaksikan momen pengalihan kapal yang pernah menjadi kebanggaan armada laut Italia itu. Turut hadir pula Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dr. Utut Adianto, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandio Budita, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, serta Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Muhammad Toni Harjono. Dari pihak Italia, hadir Kepala Staf Angkatan Laut Italia, Admiral Enrico Credendino.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.