Tak hanya soal fisik bangunan, Dedi juga menyoroti soal kejujuran dalam berdagang. Ia meminta para pedagang menghitung nilai dagangannya secara jujur, lalu menetapkan harga jual dengan keuntungan maksimal 10 persen dari harga beli. “Kalau 500 jadi 550, itu cukup. Pemimpin harus jujur, rakyat pun harus jujur,” tegasnya.
Ia bahkan ikut menimbang buah, mencatat stok per kios, dan mengajak pedagang untuk membagikan sebagian hasil dagangan kepada warga sekitar. Buah yang berlebih dibagikan cuma-cuma agar uang tetap berputar di ekonomi rakyat.
Di sela kunjungan itu, Dedi juga menyaksikan kondisi jembatan Cilutung yang sedang dalam proses penggantian. Jembatan sepanjang 37 meter di perbatasan Majalengka-Sumedang itu mendapat anggaran sebesar Rp 17,8 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Proyek ini menyerap 27 tenaga kerja lokal dan diharapkan selesai dalam waktu dekat guna memperlancar konektivitas antarwilayah.
Gubernur menjelaskan bahwa infrastruktur jalan yang sudah diperbaiki turut mendorong geliat lokal. Salah seorang pedagang mengaku, setelah jalan diperbaiki, kawasan tersebut mulai ramai kembali dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan. “Baheula mah paburencay, ayeuna mah mimiti rame deui,” ujar salah satu pedagang perempuan dengan wajah sumringah.
Di tengah keramaian itu, Dedi tiba-tiba berhenti di depan seorang ibu muda berusia 28 tahun yang berjualan sambil merawat anak yang sakit. Sang anak, yang juga masih muda, didiagnosis mengidap TBC usus dan tengah menjalani perawatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Biaya pengobatan gratis, namun ongkos perjalanan pulang-pergi mencapai Rp 100.000 sekali jalan menjadi beban tersendiri bagi keluarga kecil ini.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.