Yang lebih mengejutkan, alih-alih terpukul oleh pengalaman traumatik tersebut, Ustadz Asad justru menegaskan bahwa insiden pembajakan itu semakin membakar semangatnya untuk bersuara. Ia mengingatkan bahwa apa yang dialaminya hanyalah sepersekian kecil dari penderitaan yang setiap hari dirasakan oleh rakyat Palestina di bawah konflik yang tak kunjung usai.
“Apa yang kami rasakan belum apa-apa dibanding apa yang dialami saudara-saudara kita di Palestina. Justru apa yang kami alami ini menjadi spirit agar kita semua semakin peduli terhadap penderitaan mereka,” tegasnya.
Kepulangan sembilan WNI dari misi Global Sumud Flotilla 2.0 ini sekaligus menjadi pengingat keras bahwa upaya membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza bukan perjalanan wisata — melainkan taruhan jiwa yang nyata. Mereka yang berangkat membawa beras dan obat-obatan, pulang membawa cerita tentang laras senapan, interogasi, dan keyakinan yang tak goyah.
Di tengah dunia yang kerap bungkam atas nama kepentingan geopolitik, keberanian para relawan ini — termasuk Ustadz Asad dari Sinjai — menjadi suara kecil yang justru paling lantang bergema: bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas bendera.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.