MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Musim kemarau belum mencapai puncaknya, namun dampaknya sudah terasa di berbagai penjuru Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan melalap ribuan meter persegi vegetasi di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah, sementara sumur-sumur warga di Banyumas mulai mengering. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan imbauan keras: jangan sekali-kali menyulut api di lahan terbuka.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, berbicara pada Minggu, 2 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa karhutla dan kekeringan masih mendominasi laporan bencana nasional selama periode kemarau ini. Dua wilayah langsung menjadi perhatian serius: Kabupaten Pinrang di Sulawesi Selatan dan Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah.
Di Desa Taddakong, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, api muncul pada Sabtu malam, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 19.00 WITA. Kawasan perbukitan berbatu yang dipenuhi daun dan ranting kering menjadi bahan bakar sempurna di tengah suhu yang menyengat. Dalam hitungan jam, sekitar lima hektare lahan hangus dilalap api.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. BPBD Pinrang bergerak cepat bersama Dinas Pemadam Kebakaran, unsur TNI, Polri, dan warga setempat. Mereka tidak hanya memadamkan api secara langsung, tetapi juga menerapkan metode fire breaking—pembuatan sekat bakar untuk memutus jalur perambatan api agar tidak meluas ke area sekitar.
Hampir bersamaan, laporan serupa masuk dari Jawa Tengah. Karhutla melanda Desa Gemantar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, dengan luas terdampak sekitar empat hektare. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, namun petugas bergerak tanpa menunggu kepastian itu.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.