“BPBD Kabupaten Wonogiri segera melakukan asesmen cepat dan pemadaman. Berdasarkan kondisi mutakhir pada Sabtu, api telah berhasil dipadamkan sehingga tidak lagi mengancam area di sekitarnya,” ujar Muhari. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari kejadian ini.

Ancaman musim kemarau tidak berhenti pada kobaran api. Di Kabupaten Banyumas, juga di Jawa Tengah, warga mulai merasakan dampak lain yang tak kalah mengkhawatirkan: kekeringan. Berkurangnya curah hujan secara drastis membuat sejumlah sumber air bersih mengering, memaksa warga mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BPBD Banyumas bersama pemerintah desa dan lembaga kemanusiaan bergerak untuk menambal kekosongan itu. Distribusi air bersih menjadi prioritas utama. Hingga Sabtu, 1 Agustus 2026, pukul 23.00 WIB, tercatat 27.000 liter air bersih atau setara lima tangki telah disalurkan ke sejumlah titik terdampak.

Distribusi dilakukan secara terstruktur ke berbagai lokasi. Sebanyak 4.000 liter disalurkan ke Grumbul Tembelang, Desa Sudimara, Kecamatan Cilongok, yang bersumber dari Perumda Pabuwaran. Dua pondok pesantren di Desa Rancamaya, yakni Hidayatul Kholil dan An Najah, menerima total 8.000 liter dari Perumda Tonjong Ajibarang.

Penyaluran tidak berhenti di sana. Desa Langgongsari di Kecamatan Cilongok mendapat pasokan 5.000 liter dari Hydrant Karangbawang. Desa Jingkang di Kecamatan Ajibarang dan Desa Cipete di Kecamatan Cilongok masing-masing menerima 5.000 liter dari PDAM Tonjong. Setiap tetes air yang sampai ke tangan warga menjadi bukti kerja nyata di lapangan.



Follow Widget