Tak hanya soal BBM, DPRD Sulsel rupanya juga mulai menyoroti persoalan lain yang datang beriringan: kelangkaan gas LPG di sejumlah daerah terdampak kekeringan. Ini bukan cerita yang berdiri sendiri — kekeringan memukul sektor pertanian, dan petani yang ladangnya mengering butuh pompa air. Pompa air butuh bahan bakar. Maka LPG pun ikut masuk dalam daftar kebutuhan mendesak.
Fauzan menyebut bahwa dalam waktu dekat akan ada penambahan pasokan LPG, khususnya untuk mendukung kegiatan pompanisasi lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Petani, yang sudah kesulitan menghadapi musim kering, kini harus memastikan ketersediaan energi agar sawah mereka tidak benar-benar mati.
Situasi ini menggambarkan satu rantai masalah yang saling berkelindan: cuaca ekstrem memperparah krisis energi di tingkat akar rumput, sementara distribusi yang tak merata membuat masyarakat bereaksi dengan cara paling manusiawi — mengantre lebih panjang dari biasanya.
Di sisi lain, Fauzan juga menyoroti pentingnya selektivitas pemerintah kabupaten dan kota dalam menerbitkan rekomendasi BBM bersubsidi bagi petani dan nelayan. Rekomendasi, katanya, harus diberikan sesuai peruntukan dan besaran alokasi yang telah ditetapkan oleh regulasi.
Ini adalah isu lama yang kembali mencuat: BBM bersubsidi kerap tidak sampai ke tangan yang benar-benar berhak. Sementara petani dan nelayan kecil kesulitan mendapat jatah, oknum-oknum tertentu diduga memanfaatkan celah rekomendasi untuk kepentingan yang jauh dari semangat subsidi.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.