BANDUNG BARAT, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil langkah tegas: memerintahkan aparat kepolisian dan militer berjaga penuh selama 24 jam di lokasi proyek Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung. Perintah itu bukan tanpa alasan — Dedi ingin memastikan tidak ada satu pun kelompok preman yang berani menggarong proyek strategis tersebut.

Perintah disampaikan langsung kepada Kapolda Jawa Barat Irjen Pipit Rismanto dan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih pada Rabu, 29 Juli 2025, saat Dedi meninjau lokasi TPPAS Legok Nangka. Instruksi itu menegaskan bahwa kawasan proyek harus steril dari segala bentuk pungutan liar, intimidasi, maupun permintaan jatah yang berkedok apapun.

Bagi Dedi, ancaman premanisme di lingkungan proyek besar sudah menjadi pola yang terlalu sering berulang. Ia hafal betul skenarionya: proyek dimulai, tak lama kemudian muncul orang berseragam ormas membawa bendera, meminta jatah dari setiap kendaraan yang melintas. Lalu datang proposal Agustusan, dan jika ditolak, berujung pada intimidasi.

“Biasanya ada proyek, besok ada orang yang pakai seragam ke sini. Pakai kaos bawa bendera. Nanti setiap mobil lewat, goceng. Nanti datang lagi kelompok ini, ngajuin proposal untuk Agustusan, tidak diberi, marah. Saya katakan tidak boleh,” tegas Dedi di hadapan para pejabat yang hadir.

Pernyataan itu bukan sekadar gertakan. Dedi secara eksplisit melarang siapa pun datang ke TPPAS Legok Nangka untuk meminta jatah ritasi pengiriman pasir, batu, maupun material lainnya. Jaminan keamanan, katanya, adalah tanggung jawab yang ia emban langsung sebagai kepala daerah.

Proyek TPPAS Legok Nangka bukan proyek sembarangan. Fasilitas pengolahan sampah skala besar ini dirancang untuk mengatasi krisis persampahan Jawa Barat yang sudah lama menjadi beban. Dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari TPA konvensional, proyek ini diharapkan menjadi tulang punggung pengelolaan sampah regional. Gangguan sekecil apapun pada rantai operasionalnya bisa berdampak luas bagi jutaan warga.

Itulah mengapa Dedi tak mau kompromi. Penjagaan 24 jam oleh personel Polda dan Kodam bukan hanya soal keamanan fisik, melainkan sinyal keras bahwa era preman menguasai proyek pemerintah di Jawa Barat harus berakhir. Tak ada toleransi untuk praktik memeras yang selama ini dianggap lumrah.

Lebih jauh, Dedi menegaskan bahwa sikapnya ini adalah bagian dari perang terbuka premanisme secara keseluruhan. Menurutnya, membiarkan orang mendapat uang tanpa bekerja adalah preseden buruk yang merusak tatanan sosial dan moral masyarakat.

“Saya menyatakan perang terhadap premanisme. Kenapa? Premanisme, kita membiarkan orang mendapatkan uang tanpa bekerja, ini akan melahirkan sebuah preseden buruk,” ujarnya dengan nada tegas.

Filosofi Dedi sederhana namun tajam: setiap rupiah harus diperoleh dari kerja yang sah dan jujur. Negara tidak boleh menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang hidup dari menakut-nakuti dan memeras sesama.

Di balik ketegasan itu, ada visi yang lebih besar yang ingin ia capai melalui proyek TPPAS Legok Nangka. Dedi berharap fasilitas ini kelak mampu menghasilkan energi dari pengolahan sampah — dan energi itu bisa digunakan untuk menerangi rumah-rumah warga yang selama ini belum terjangkau listrik.

Saat ini, masih ada sekitar 70 ribu keluarga di Jawa Barat yang belum menikmati aliran listrik. Angka itu sebenarnya sudah turun drastis dari 500 ribu keluarga sebelumnya — sebuah capaian yang tidak kecil. Namun bagi Dedi, pekerjaan belum selesai selama masih ada satu pun warga Jabar yang hidup dalam kegelapan.

“Jawa Barat menargetkan tahun depan seluruh rakyat Jawa Barat sudah punya listrik. Dari 500 ribu yang tidak punya listrik, sekarang tinggal 70 ribu lagi. Tahun depan kelar,” ucap Dedi optimistis.

Target itu ia pasang untuk 2027 — tahun di mana ia berharap Jawa Barat bisa mengklaim diri sebagai provinsi dengan akses listrik universal. TPPAS Legok Nangka adalah salah satu kunci untuk mewujudkan ambisi itu, dan itulah sebabnya proyek ini harus dijaga dari segala gangguan, termasuk dari tangan-tangan yang hanya ingin mengambil manfaat tanpa memberi kontribusi apapun.

Langkah Dedi Mulyadi ini mencerminkan pendekatan pemerintahan yang semakin tidak sabar menghadapi praktik-praktik lama yang menghambat pembangunan. Di banyak daerah, proyek infrastruktur kerap menjadi ladang bagi kelompok-kelompok yang mengklaim “hak” atas nama keamanan wilayah, padahal ujung-ujungnya adalah pemerasan terselubung.

Jawa Barat, sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, sudah terlalu lama menerima kenyataan itu. Kini, dengan komitmen penjagaan militer dan kepolisian secara penuh di lokasi proyek, Dedi mengirim pesan yang jelas: era itu sudah berakhir.

Pertanyaannya kemudian adalah konsistensi. Kebijakan tegas seperti ini sering kali efektif di awal, namun layu di tengah jalan ketika perhatian publik beralih. Masyarakat Jawa Barat — dan pengamat tata kelola pemerintahan — tentu akan memantau apakah perintah 24 jam ini benar-benar diterapkan secara konsisten hingga proyek TPPAS Legok Nangka rampung dan beroperasi penuh.FAQ

Apa itu TPPAS Legok Nangka dan mengapa proyek ini penting?

TPPAS Legok Nangka adalah Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah regional di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Proyek ini dirancang untuk menangani sampah dari beberapa kota dan kabupaten sekaligus, serta berpotensi menghasilkan energi listrik dari hasil pengolahan sampah.

Mengapa Dedi Mulyadi memerintahkan penjagaan 24 jam di lokasi proyek?

Dedi ingin mencegah aksi premanisme yang biasa muncul di sekitar proyek besar, seperti pungutan liar dari kendaraan proyek dan permintaan jatah berbagai keperluan. Ia memerintahkan Polda Jabar dan Kodam III/Siliwangi untuk menempatkan personel di lokasi sepanjang waktu demi memberikan jaminan keamanan.

Kapan Jawa Barat menargetkan seluruh warganya memiliki akses listrik?

Gubernur Dedi Mulyadi menargetkan pada tahun 2027 seluruh warga Jawa Barat sudah memiliki akses listrik. Saat ini masih ada sekitar 70 ribu keluarga yang belum teraliri listrik, turun signifikan dari angka 500 ribu sebelumnya.



Follow Widget