Sudaryono bahkan berbagi kisah pribadinya. Ia mengaku lahir dan besar di desa, terbiasa makan telur karena ibunya memelihara ayam di rumah. Pengalaman itulah yang membuatnya sangat memahami arti penting gizi bagi anak.

“Saya ini anak desa. Ibu saya pelihara ayam di rumah, dan saya besar karena makan telur,” ceritanya sambil tersenyum. Kisah sederhana itu ia jadikan pengingat bahwa gizi yang cukup adalah fondasi generasi yang sehat dan produktif.

Program MBG, menurut Sudaryono, dirancang bukan untuk memberikan makanan yang enak atau makanan yang banyak, melainkan makanan yang bergizi. Sasarannya pun sangat spesifik: anak-anak usia sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia yang membutuhkan asupan gizi tambahan.

Ia juga menyinggung soal ketimpangan distribusi pangan antara Jawa dan luar Jawa. Selama bertugas di Kementerian Pertanian, ia menyaksikan langsung bagaimana kelebihan produksi di Jawa tidak selalu bisa menjangkau daerah yang kekurangan. Program MBG, katanya, harus mampu menjawab persoalan distribusi itu.

Sudaryono optimistis program ini akan membawa perubahan nyata. Ia menyebut dulu ada petani yang sampai membuang hasil panennya karena tidak laku, ada pula yang mandi susu karena kelebihan produksi. Dengan adanya MBG sebagai penyerap besar, skenario semacam itu diharapkan tidak terulang.



Follow Widget