Ia menyebutkan beberapa langkah konkret yang akan segera dilakukan. Proses yang masih bersifat manual akan didorong beralih ke sistem digital. Praktik-praktik yang dilakukan secara tertutup, termasuk komunikasi bisnis di ruang-ruang gelap, tidak lagi akan ditoleransi. “Semua harus dibahas di ruang yang terang, yang bisa dilihat semua orang,” tegasnya.
Sudaryono juga menyampaikan pesan tegas kepada keluarga, kerabat, alumni, dan siapapun yang mengaku dekat dengannya. Ia memperingatkan publik agar tidak mudah percaya jika ada pihak yang mengatasnamakan kedekatan dengannya untuk memuluskan kepentingan tertentu di lingkungan BGN.
“Jika ada yang mengaku sebagai orang saya, keluarga saya, teman saya, dan menawarkan jasa dengan imbalan tertentu, saya pastikan itu tidak benar,” ujarnya lugas. Ia bahkan mendorong siapapun yang menemui praktik semacam itu untuk langsung melaporkannya kepada pihak berwenang.
Dalam kapasitasnya sebagai mantan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono memiliki visi lebih luas terhadap program MBG. Baginya, program ini bukan hanya soal mengisi perut, melainkan juga tentang menggerakkan roda ekonomi desa dari hulu ke hilir.
Ia menggambarkan BGN seperti mesin penghisap yang menyerap hasil produksi petani, peternak, dan nelayan di seluruh pelosok Indonesia. Dana APBN yang mengalir melalui program ini, menurutnya, harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di tingkat paling bawah.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.