Langkah ini sekaligus menjadi instrumen penting dalam menekan belanja devisa untuk impor. Saat ini, Indonesia masih mengimpor tepung telur dalam jumlah signifikan untuk memenuhi kebutuhan industri pangan. Jika tiga pabrik ini beroperasi penuh, kebutuhan impor itu bisa dipangkas secara drastis, bahkan dihentikan sama sekali.
Amran mengingatkan bahwa penguatan konsumsi protein masyarakat juga harus menjadi bagian dari perhatian. Ketersediaan sumber protein yang beragam, mulai dari ikan, ayam, hingga telur, perlu dijaga tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi keterjangkauan harga dan kemudahan akses.
Dalam pandangan Mentan, kemajuan sektor peternakan tidak bisa hanya diukur dari angka produksi. Yang lebih penting adalah apakah peternak benar-benar sejahtera, apakah mereka tidak lagi merugi di bulan-bulan tertentu, dan apakah ada sistem yang melindungi mereka dari volatilitas pasar yang selama ini menjadi momok.
“Intinya bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” ujar Amran.
Kolaborasi lintas kementerian menjadi kunci keberhasilan rencana besar ini. Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, dan Kementerian Perdagangan berada dalam satu kesepahaman untuk mendorong transformasi peternakan nasional yang sesungguhnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.