Selama ini, peternak ayam kerap merugi ketika musim panen berlimpah. Harga telur dan daging ayam anjlok karena pasar segar tak mampu menyerap semua hasil produksi. Tidak ada saluran alternatif, tidak ada cadangan, dan tidak ada tempat mengolah kelebihan itu menjadi sesuatu yang bernilai lebih tinggi.

Pabrik tepung telur dan tepung daging hadir sebagai jawaban atas masalah struktural itu. Ketika produksi berlebih, telur dan daging tidak perlu dilepas murah ke pasar. Keduanya bisa diolah menjadi produk dengan masa simpan panjang dan manfaat yang jauh lebih luas.

Amran menggambarkan rantai manfaatnya secara langsung: petani jagung memiliki pasar untuk hasil panennya sebagai bahan baku pakan ternak, peternak mendapat kepastian pasokan pakan dengan harga terjangkau, dan industri pengolahan menjadi buffer ketika produksi melimpah. Semua rantai ini saling menopang.

Pemerintah juga membuka peluang bagi sektor swasta untuk terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan pabrik. Namun Amran menegaskan, negara tetap hadir dan tidak akan melepas kendali atas industri strategis ini sepenuhnya.

“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” tegasnya.



Follow Widget