Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Minut, Denny Lolong, tidak bisa hadir langsung dalam upacara pelepasan. Namun melalui perwakilannya, Jhoni Moray, ia menitipkan pesan yang sederhana namun membekas. “Adik-adik harus semangat, belajar dan belajar. Perjuangan saat ini bukan lagi memikul senjata, tetapi perjuangan kita adalah belajar,” kata Jhoni menyampaikan pesan Ketua Kwarcab.
Kata-kata itu bukan klise. Di tengah era ketidakpastian global dan persaingan yang kian ketat, semangat belajar adalah senjata paling relevan yang bisa dipegang generasi muda hari ini. Para penggalang Minut diingatkan bahwa mereka bukan sekadar peserta — mereka adalah utusan dari daerah yang menaruh harapan besar.
Sekretaris Daerah Minahasa Utara, Novly Wowiling, hadir mewakili Bupati Joune Ganda dalam prosesi pelepasan tersebut. Ia menegaskan bahwa keterlibatan pemerintah dalam pembinaan Pramuka bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata. Gerakan Pramuka, menurutnya, bukan hanya soal tanda kecakapan atau kompetisi semata — ini tentang membangun fondasi karakter anak bangsa sejak dini.
Dukungan pemerintah itu juga datang dalam bentuk konkret. Pemkab Minahasa Utara telah memberikan bantuan sebesar Rp10 juta untuk membantu pembiayaan keberangkatan kontingen. Sebuah bentuk nyata keberpihakan pemerintah daerah terhadap pembinaan generasi muda.
Namun di balik semangat yang membara, ada tantangan logistik yang masih membayangi. Kwarcab Minut mengakui bahwa anggaran yang tersedia belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan kontingen, terutama untuk biaya tiket kepulangan dari Jakarta menuju Manado. Dukungan tambahan dari berbagai pihak masih sangat diharapkan agar tidak ada satu pun peserta yang terhambat oleh persoalan biaya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.