“Pertama, mobil patroli harus siaga setiap malam, lampu tanda bahayanya wajib menyala. Satpol PP dan Damkar juga harus siaga di titik-titik strategis untuk mengantisipasi segala kemungkinan setiap saat,” kata KDM.

Selain penguatan patroli, KDM mendorong pengaktifan kembali Siskamling atau Sistem Keamanan Lingkungan—sebuah tradisi pengamanan berbasis komunitas yang sempat meredup di era modern. Langkah ini mencerminkan keyakinannya bahwa keamanan sejati bermula dari kepedulian warga di tingkat paling bawah.

Gagasan menghidupkan kembali Siskamling bukan tanpa alasan. Di banyak daerah, ronda malam terbukti efektif menekan angka kejahatan ringan hingga menengah karena menciptakan efek jera bagi pelaku yang mengandalkan kelengahan warga.

Langkah KDM ini memantik beragam respons dari publik. Sebagian warga menyambut antusias, menilai sayembara ini sebagai bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap keselamatan rakyat kecil. Namun, tak sedikit pula yang mempertanyakan aspek hukum dan keamanan bagi warga yang berani turun tangan langsung menghadapi pelaku kejahatan bersenjata.

Kekhawatiran itu memang beralasan. Menangkap begal atau perampok bukan perkara mudah—risiko konfrontasi fisik sangat nyata. Oleh karena itu, syarat “pelaku diserahkan hidup-hidup” sekaligus menjadi pengingat bahwa tindakan warga tetap harus terukur, tidak impulsif, dan tidak membahayakan diri sendiri.



Follow Widget