JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Rocky Gerung akhirnya melangkah masuk ke dalam lingkaran kekuasaan yang selama ini ia kritik dari luar. Pengamat politik yang dikenal tajam dan kerap berseberangan dengan pemerintah itu resmi dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara.

Kehadiran Rocky di Istana pada Jumat pagi itu langsung menarik perhatian. Ia tampil mengenakan setelan jas dengan kemeja putih — penampilan yang terasa kontras dengan citranya sebagai pengkritik keras pemerintah dari luar panggung kekuasaan.

Rocky dilantik bersama sejumlah tokoh lain, di antaranya Pratikno, mantan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, yang kini ditunjuk sebagai Ketua Wantimpres. Hadir pula Hatar Jasa sebagai Wakil Ketua, serta Anwar Utsman, ipar mantan Presiden Joko Widodo. Total anggota Wantimpres kali ini berjumlah 25 orang, yang terdiri dari tokoh agama, pengusaha, hingga aktivis dari berbagai latar belakang.

Pertanyaan yang paling banyak beredar di publik adalah: mengapa Rocky mau masuk? Selama ini ia dikenal sebagai suara kritis yang lantang dari luar pemerintahan. Kini, ia justru berada di dalam.

Rocky sendiri menjawab pertanyaan itu dengan gaya khasnya — lugas dan filosofis sekaligus. Ia menyebut tidak ada alasan kuat baginya untuk menolak. “Alasan saya menolak apa? Ada alasan mungkin untuk lebih bebas mengkritik kebijakan pemerintah kalau di luar,” ujarnya, seolah menyadari ironi posisinya.

Namun Rocky menegaskan, bergabungnya ia ke Wantimpres bukan berarti sikapnya akan berubah. Baginya, ini sekadar perpindahan posisi — dari luar ke dalam — bukan perubahan cara pandang. “Posisi saya tetap, pandangan saya tetap, radical break,” tegasnya.

Ia juga membedakan antara fungsi Wantimpres dengan peran pengkritik di luar pemerintahan. Menurutnya, dewan ini bukan wadah untuk mengkritik, melainkan bersifat kritis terhadap kebijakan. “Dewan ini bukan mengkritik, fungsinya kritis, bukan mengkritik. Berbeda bersikap kritis terhadap kebijakan,” jelasnya.

Masuknya Rocky ke Wantimpres tentu memunculkan berbagai persepsi di masyarakat. Ada yang melihatnya sebagai langkah positif — suara kritis kini berada lebih dekat dengan pengambil keputusan. Ada pula yang meragukan, apakah independensinya akan tetap terjaga ketika ia sudah menjadi bagian dari sistem.

Rocky sepertinya sudah mengantisipasi dua kutub persepsi itu. “Kenapa kritis? Karena pasti ada persepsi negatif, ada persepsi positif. Dua persepsi itu hanya perpindahan dari luar ke dalam,” katanya, tampak tenang menghadapi sorotan publik.

Selain Rocky, pelantikan Wantimpres kali ini juga menyertakan nama-nama dari dunia usaha. Salah satunya adalah Yusuf Hamka, pengusaha jalan tol yang akrab disapa Babah Alun. Setelah dilantik, ia menyatakan kesiapannya berkontribusi demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

“Pertimbangannya pasti untuk negara maju, rakyatnya sejahtera,” ujar Yusuf Hamka singkat. Ia menambahkan, yang terpenting bukan sekadar penampilan luar, melainkan niat dan komitmen yang sesungguhnya. “Yang penting jangan lupa, jangan hanya bajunya putih, hatinya harus merah putih,” tegasnya dengan gaya bicara yang lugas dan berwarna.

Pelantikan Wantimpres ini berlangsung di tengah sejumlah peristiwa besar lainnya di hari yang sama. Di Markas Besar Polri, Lapangan Bhayangkara, Jakarta Selatan, berlangsung serah terima jabatan Kapolri dari Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada Jenderal Suyudi Ariotonang. Upacara tradisional penyerahan Panji Tribrata menjadi puncak simbolis dari pergantian estafet kepemimpinan tertinggi di tubuh Polri.

Setelah serangkaian upacara dan parade selesai, acara dilanjutkan dengan prosesi pelepasan tugas bagi Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Jenderal Dedi Prasetyo. Pergantian kepemimpinan Polri ini sebelumnya telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang juga melantik Komisaris Jenderal Wahyu Hidayat sebagai Wakapolri.

Di sisi lain, isu tata kelola lembaga pemasyarakatan turut mencuat ke permukaan. Ketua Ombudsman RI Nuzran Joher menegaskan pihaknya akan terus mengawasi pembenahan tata kelola lapas di Indonesia, termasuk menindaklanjuti temuan fasilitas mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong yang sempat viral dan memicu kritik publik.

Ombudsman kini sedang memfinalisasi rekomendasi tertulis yang akan diserahkan kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. “Kami sudah selangkah lagi untuk menyampaikan rekomendasi tertulis,” ujar Nuzran, menegaskan bahwa temuan lapangan dari inspeksi mendadak itu sudah cukup kuat untuk dijadikan dasar rekomendasi resmi.

Hari itu menjadi salah satu hari yang padat dengan pergantian dan pelantikan di berbagai lini pemerintahan. Dari Wantimpres hingga Kapolri, dari istana hingga lapas — semuanya bergerak serentak, mencerminkan dinamika kekuasaan yang terus berputar di Jakarta.

Yang menarik, di tengah semua itu, sosok Rocky Gerung tetap menjadi pusat perhatian. Bukan karena jabatannya yang baru, melainkan karena pertanyaan yang ia tinggalkan di benak publik: apakah suara kritisnya akan tetap terdengar dari dalam?

Jawaban atas pertanyaan itu, seperti biasa, masih menunggu waktu.



Follow Widget