Dari sisi Jerman, sinyal yang dikirimkan Steinmeier pun tak kalah positif. Presiden Jerman itu mengakui Indonesia bukan sekadar pasar yang besar — ia menyebutnya sebagai destinasi investasi yang punya daya tarik kuat bagi dunia usaha Jerman.

Buktinya bukan sekadar klaim. Steinmeier menunjuk nama-nama besar yang sudah lebih dulu hadir: Siemens dan Daimler. Dua raksasa industri Jerman itu telah lama beroperasi di Indonesia dan terus berkembang — sebuah sinyal kepercayaan yang berbicara lebih keras dari sekadar pernyataan diplomatik.

Steinmeier kemudian menyentuh satu isu yang bisa menjadi pengubah permainan: ratifikasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa, atau yang dikenal sebagai IEU-CEPA. Jerman, tegasnya, berkomitmen mendukung penuh proses ratifikasi perjanjian tersebut.

Jika IEU-CEPA berhasil diratifikasi, dampaknya bisa sangat luas. Pintu investasi dari Eropa ke Indonesia akan terbuka lebih lebar. Yang menarik, Steinmeier secara khusus menyebut potensi masuknya perusahaan kecil dan menengah Jerman — segmen yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Jerman namun belum banyak hadir di Indonesia.

“Kerja sama ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kerja sama yang lebih erat antara perusahaan Jerman dan Indonesia di bidang inovasi. Saya rasa itu menguntungkan bagi kedua belah pihak, bagi kedua negara,” ujar Steinmeier.



Follow Widget