Ketiga, industri semikonduktor — ceruk yang selama ini didominasi Asia Timur, namun kini mulai diintip Indonesia sebagai peluang besar. Keempat, kendaraan listrik, yang pertumbuhannya di pasar domestik terus menggeliat.
Tak hanya itu, Prabowo juga membuka pintu kerja sama dalam pengembangan rantai pasok mineral kritis dan unsur tanah jarang. Dua komoditas ini bukan sekadar bahan tambang biasa — keduanya menjadi tulang punggung industri teknologi modern dan transisi energi global.
Indonesia dikenal memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah. Nikel, kobalt, hingga bauksit tersebar di berbagai penjuru nusantara. Dengan mendorong hilirisasi dan menggandeng mitra teknologi sekelas Jerman, pemerintah ingin mengubah kekayaan alam itu menjadi keunggulan industri jangka panjang.
Di balik undangan itu ada kalkulasi geopolitik yang matang. Bagi Prabowo, Jerman bukan sekadar mitra dagang biasa — ia adalah pintu masuk ke Eropa. Sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di benua itu, Jerman memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah investasi dan kebijakan industri Eropa secara keseluruhan.
“Kami butuh kemitraan yang baik dengan Jerman dan dengan Eropa. Kunjungan Presiden Jerman kali ini adalah tanda bahwa hubungan itu sangat penting,” kata Prabowo.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.