Dari tiga langkah yang disebut, hilirisasi dan industrialisasi mendapat sorotan paling tajam. Presiden secara khusus mengarahkan mandat tersebut kepada Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, yang juga duduk sebagai anggota Satuan Tugas Hilirisasi dan Industrialisasi.

Prasetyo menjelaskan alasannya secara gamblang. Kurs rupiah dan ketahanan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari performa ekspor dan impor. Selama Indonesia masih bergantung pada produk impor dan mengekspor bahan mentah dengan nilai rendah, maka daya tahan ekonomi akan terus rentan terhadap guncangan eksternal.

“Kalau kita berbicara penguatan mata uang, maka tidak bisa lepas juga dari performa ekspor dan impor kita,” kata Prasetyo. Ia menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci untuk mengubah pola itu.

Program hilirisasi, kata Prasetyo, memiliki dua fungsi strategis sekaligus. Pertama, mengurangi ketergantungan terhadap barang impor yang selama ini menguras devisa. Kedua, menciptakan produk bernilai tambah tinggi dari sumber daya alam yang selama ini hanya dijual mentah ke luar negeri—dengan harapan menghasilkan lebih banyak pendapatan dan kekayaan bagi negara.

Arahan ini hadir di momen yang dinilai pemerintah sebagai titik balik penting. Kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia disebut tengah meningkat, termasuk terhadap instrumen pendanaan global yang diterbitkan Danantara. Momentum positif ini, menurut Prabowo, tidak boleh disia-siakan.



Follow Widget