Ia pun memperluas cakupan pembicaraan ke Undang-Undang Dasar 1945. Bagi Prabowo, konstitusi bukan dokumen mati yang tersimpan di perpustakaan negara. UUD 1945 adalah blueprint — istilah teknis yang ia gunakan secara harfiah untuk menegaskan betapa konkret dan fungsionalnya peran konstitusi dalam pembangunan bangsa.

Prabowo mengambil analogi yang sederhana namun menghujam: mendirikan gedung tanpa gambar teknis. Tidak ada arsitek waras yang membangun gedung pencakar langit tanpa rancangan. Jika fondasi menyimpang dari cetak biru, bangunan itu hanya menunggu waktu untuk runtuh.

“Kita sudah diberi rancang bangun blueprint, tapi kita pura-pura bahwa itu tidak penting,” kata Prabowo, dengan nada yang nyaris seperti teguran.

Pernyataan itu terasa bukan sekadar retorika seremonial. Prabowo seolah sedang berbicara kepada dua audiens sekaligus: para pengusaha muda yang hadir di Bandar Lampung, dan seluruh bangsa yang sedang menyaksikan.

Kepada HIPMI, pesan itu memiliki lapisan tersendiri. Para pengusaha muda adalah kekuatan ekonomi yang akan membentuk wajah Indonesia dalam dua hingga tiga dekade ke depan. Mereka yang akan menentukan apakah visi para pendiri bangsa tentang kemakmuran dan keadilan sosial itu akan terwujud atau sekadar tertulis indah di atas kertas konstitusi.