Keputusan itu, menurut Presiden, adalah bukti betapa jernih dan bijaknya para pendiri bangsa dalam memandang kepentingan jangka panjang di atas ego kelompok. Sebuah teladan yang menurutnya seharusnya terus menjadi kompas bagi generasi kini.
Prabowo kemudian beralih ke Pancasila. Ia mengakui ada ironi besar dalam cara bangsa ini memandang ideologi negaranya sendiri. Lima sila yang menjadi pondasi Republik ini, kata Prabowo, kini kerap diterima begitu saja — seolah kehadirannya adalah hal yang lumrah dan tidak istimewa.
“Pancasila yang telah mempersatukan. Ini kita terima dan anak-anak muda sekarang menerima, seolah-olah ya, itu biasa,” ujar Prabowo, menekankan bahwa justru di situlah letak bahayanya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Prabowo meminta hadirin membuka mata terhadap kondisi dunia saat ini yang masih didera konflik bersenjata di berbagai kawasan. Perang belum usai di banyak penjuru bumi, perpecahan sosial menggerus negara-negara yang tampak kokoh dari luar.
Di tengah realitas itu, Indonesia berdiri — masih bersatu, masih utuh. Dan itu, menurut Prabowo, bukan kebetulan. Itu adalah buah dari Pancasila dan sistem ketatanegaraan yang diwariskan para pendiri bangsa.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.