Presiden menyerukan agar seluruh elemen bangsa menjaga persatuan dan mempertebal semangat gotong royong. Dua kata itu—persatuan dan gotong royong—memang kerap muncul dalam retorika Prabowo, namun kali ini ia menyertakannya dalam konteks yang lebih spesifik: membangun ekonomi nasional yang mandiri, berdaulat, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Pilihan kata “berdaulat” dan “mandiri” bukan tanpa signifikansi. Dalam diskursus ekonomi politik Indonesia, dua kata itu merujuk pada gagasan bahwa kebijakan ekonomi tidak boleh didiktekan oleh kepentingan asing atau lembaga keuangan internasional. Prabowo menegaskan komitmen itu dengan nada yang lugas.
Namun pidato di HUT PKB itu tidak hanya berbicara soal dapur dalam negeri. Prabowo juga menyinggung arah kebijakan luar negeri Indonesia dengan tegas dan tanpa basa-basi diplomatik yang berlebihan.
Ia menegaskan kembali prinsip politik luar negeri bebas dan aktif yang telah menjadi doktrin Indonesia sejak era kemerdekaan. Dalam praktiknya, Prabowo menerjemahkan prinsip ini ke dalam apa yang ia sebut sebagai good neighbor policy—menjalin hubungan baik dengan semua negara tanpa kehilangan independensi dalam menentukan sikap.
Pernyataan itu relevan dalam konteks geopolitik yang kian memanas. Tekanan dari berbagai kekuatan dunia untuk memilih blok tertentu makin terasa, namun Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan terseret ke dalam logika berpihak pada satu kubu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.