JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Bukan kondisi ekonomi yang rapuh, melainkan persepsi negatif yang tidak berdasar—itulah yang disebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai biang keladi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah belakangan ini.

Purbaya menegaskan hal itu merespons kekhawatiran pasar yang belakangan semakin ramai diperbincangkan. Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih solid dan tidak mencerminkan kepanikan yang terjadi di lantai bursa maupun pasar valuta asing.

Ia menunjuk kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai bukti nyata. APBN, katanya, tetap berjalan kuat. Aktivitas ekonomi di berbagai penjuru daerah pun masih tumbuh positif, bukan melambat seperti yang dikesankan sejumlah narasi yang beredar.

“Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar. Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita kemana-mana semuanya ekonomi activity meningkat. Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh,” ujar Purbaya, Sabtu, 7 Juni 2026.

Pernyataan Purbaya ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pekan terakhir, IHSG tercatat mengalami tekanan yang cukup signifikan. Rupiah pun ikut melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Banyak kalangan menghubungkan tren ini dengan ketidakpastian kebijakan fiskal dan kondisi global yang belum sepenuhnya pulih.

Namun Purbaya memilih sudut pandang berbeda. Ia menilai gejolak yang terjadi lebih banyak dipicu oleh sentimen pasar yang tidak proporsional ketimbang persoalan struktural ekonomi yang sesungguhnya. Pasar, menurutnya, mudah terseret arus narasi negatif meski data di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.

Untuk menangkal sentimen negatif itu, pemerintah tidak akan tinggal diam. Purbaya menyatakan bahwa koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia akan dipererat. Langkah ini dimaksudkan untuk membangun kembali kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional yang dinilai masih menjanjikan.

“Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin lagi,” kata Purbaya.

Sinergi antara otoritas fiskal dan moneter memang menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Ketika keduanya berbicara dengan satu suara yang konsisten, pasar cenderung lebih tenang dan investor lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.

Sementara itu, data belanja negara yang dirilis Purbaya sehari sebelumnya turut memperkuat argumennya soal soliditas APBN. Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat, 6 Juni 2026, ia melaporkan realisasi belanja negara hingga Mei 2026 telah mencapai Rp1.365,4 triliun.

Angka itu setara dengan 35,5 persen dari total target APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Yang lebih mengesankan, realisasi tersebut tumbuh 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya—sebuah lonjakan yang jauh melampaui ekspektasi banyak analis.

“Belanja negara tetap tumbuh 34,4 persen. Bagus, artinya sesuai dengan target ya, kita selalu ingin mempercepat belanja mencapai Rp1.365,4 triliun,” ungkap Purbaya dengan nada optimistis.

Dari total belanja tersebut, belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6 persen dari pagu APBN. Secara tahunan, realisasi belanja pemerintah pusat bahkan tumbuh 52,6 persen—angka yang menunjukkan pemerintah serius mengakselerasi belanja sebagai motor penggerak ekonomi.

Pertumbuhan belanja yang agresif ini memang disengaja. Pemerintah ingin memastikan bahwa uang negara benar-benar berputar di ekonomi riil, bukan sekadar tersimpan di rekening kas. Strategi front-loading belanja—di mana sebagian besar anggaran digelontorkan di awal tahun—menjadi pilihan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di tengah tekanan global yang masih membayangi, pilihan strategi ini memiliki logika yang jelas. Ketika sektor swasta masih berhati-hati dalam berinvestasi, belanja pemerintah yang ekspansif bisa menjadi jangkar agar ekonomi tetap bergerak.

Tantangannya kini ada pada komunikasi. Purbaya tampaknya menyadari bahwa data yang baik saja tidak cukup jika narasi yang beredar di pasar terus menekan sentimen. Disinformasi atau pesimisme yang berlebihan bisa merusak kepercayaan investor lebih cepat dari faktor fundamental mana pun.

Itulah mengapa langkah koordinasi lebih erat dengan Bank Indonesia menjadi prioritas. Bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan juga upaya bersama untuk membangun narasi yang lebih akurat tentang kondisi ekonomi Indonesia di mata pelaku pasar domestik maupun asing.

Pasar keuangan pada akhirnya berjalan di atas dua kaki: data dan kepercayaan. Purbaya tampaknya sedang memastikan kedua kaki itu bisa berdiri kokoh—meskipun hembusan angin sentimen negatif terus mencoba menggoyahkan keseimbangannya.

FAQ

Apa penyebab utama pelemahan IHSG dan rupiah menurut Menkeu Purbaya? Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, penyebab utamanya adalah persepsi atau sentimen negatif yang tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya masih kuat.

Bagaimana realisasi belanja negara Indonesia hingga Mei 2026? Realisasi belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari target APBN 2026, tumbuh 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Apa langkah pemerintah untuk memulihkan kepercayaan pasar? Pemerintah akan mempererat koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk menghilangkan persepsi negatif dan memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi nasional.