Namun Purbaya memilih sudut pandang berbeda. Ia menilai gejolak yang terjadi lebih banyak dipicu oleh sentimen pasar yang tidak proporsional ketimbang persoalan struktural ekonomi yang sesungguhnya. Pasar, menurutnya, mudah terseret arus narasi negatif meski data di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.
Untuk menangkal sentimen negatif itu, pemerintah tidak akan tinggal diam. Purbaya menyatakan bahwa koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia akan dipererat. Langkah ini dimaksudkan untuk membangun kembali kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional yang dinilai masih menjanjikan.
“Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin lagi,” kata Purbaya.
Sinergi antara otoritas fiskal dan moneter memang menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Ketika keduanya berbicara dengan satu suara yang konsisten, pasar cenderung lebih tenang dan investor lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
Sementara itu, data belanja negara yang dirilis Purbaya sehari sebelumnya turut memperkuat argumennya soal soliditas APBN. Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat, 6 Juni 2026, ia melaporkan realisasi belanja negara hingga Mei 2026 telah mencapai Rp1.365,4 triliun.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.