MUI juga mengangkat isu pertahanan dalam konteks yang lebih luas. Di era modern, ancaman terhadap kedaulatan bangsa tidak selalu datang dalam wujud senjata dan pasukan militer. Perang informasi yang mengaburkan fakta, krisis pangan yang bisa memicu gejolak sosial, hingga disrupsi teknologi yang mengancam tatanan ekonomi — semuanya adalah medan pertempuran baru yang tak kalah berbahaya.

Buya Amirsyah menegaskan bahwa kesiapan menghadapi ancaman nonmiliter ini harus menjadi bagian integral dari strategi pertahanan nasional. Negara tidak bisa lagi bersikap reaktif; dibutuhkan antisipasi yang terencana dan sistematis.

Dalam konteks pembebasan sembilan WNI dari Israel, MUI melihat sebuah preseden positif yang patut dijaga. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi yang gigih, didukung komitmen politik yang kuat, mampu menghasilkan hasil nyata bagi warga negara yang membutuhkan perlindungan.

Pemerintah Indonesia, melalui saluran diplomatiknya, berhasil membuktikan bahwa tekanan internasional dapat dimanfaatkan secara efektif untuk melindungi kepentingan warga negara. Ini adalah pelajaran berharga yang harus terus dirawat sebagai standar, bukan pengecualian.

MUI berharap keberhasilan ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk semakin memperkuat mekanisme perlindungan WNI di luar negeri. Sistem deteksi dini, jaringan konsuler yang responsif, dan protokol evakuasi yang terstandar adalah investasi penting yang tidak boleh diabaikan.