JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Muhammadiyah menegaskan dukungan penuhnya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah, bukan sekadar sebagai bantuan sosial, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Direktur Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM), M. Nurul Yamin, menyampaikan pernyataan tersebut dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. Bagi Muhammadiyah, pemenuhan gizi yang terukur adalah fondasi utama pembangunan bangsa, bukan pelengkap program semata.

Yamin menegaskan bahwa program ini memiliki urgensi tinggi, terutama bagi kelompok masyarakat prasejahtera yang selama ini kesulitan mengakses nutrisi berkualitas. Tanpa gizi yang cukup dan baik, generasi penerus bangsa akan sulit bersaing di tengah arus global yang semakin kompetitif.

“Program makan bergizi merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing tinggi,” ujar Yamin.

Ia mendorong pemerintah untuk tidak berhenti pada capaian distribusi semata, tetapi terus menyempurnakan mekanisme pelaksanaan di lapangan. Berbagai kritik yang muncul dari publik, menurut Yamin, tidak perlu disikapi defensif, melainkan dijadikan bahan evaluasi untuk memperkuat sistem secara menyeluruh.

Ini bukan kali pertama Muhammadiyah mengambil posisi aktif dalam isu gizi nasional. Organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia itu telah lama membangun ekosistem pelayanan sosial yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Dalam mendukung MBG, Muhammadiyah menetapkan tiga pilar utama yang harus dipenuhi agar program ini benar-benar berdampak. Pertama, standar keamanan pangan yang mengedepankan prinsip halal dan thayyib — sebuah nilai yang tidak bisa dikompromikan dalam konteks masyarakat Muslim mayoritas.

Pilar kedua adalah tata kelola yang profesional. Yamin menekankan bahwa pengelolaan program sebesar MBG tidak bisa dijalankan asal-asalan. Dibutuhkan kapasitas manajerial yang kuat, sistem pengawasan yang berkala, dan transparansi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Pilar ketiga adalah terciptanya ekosistem pendukung yang berkelanjutan. Artinya, program ini harus mampu bertahan dan berkembang melampaui satu periode pemerintahan, tidak bergantung pada momentum politik tertentu.

Dengan jaringan AUM yang tersebar di sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial, Muhammadiyah menempatkan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan program ini. Sinergi ini diharapkan memperkuat jangkauan distribusi hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau oleh aparatur negara.

Yamin juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan MBG tidak semestinya hanya dihitung dari berapa banyak penerima manfaat yang terdaftar. Angka yang besar tanpa sistem yang kuat hanyalah ilusi keberhasilan.

“Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas sistem yang dibangun. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pengelola, pengawasan berkala, dan transparansi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan program,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa program sebesar MBG membutuhkan lebih dari sekadar anggaran dan niat baik. Dibutuhkan ekosistem pengawasan yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, termasuk Muhammadiyah, agar program tidak terjebak dalam birokrasi yang lamban atau potensi penyimpangan di lapangan.

Di sisi lain, komitmen Muhammadiyah ini memperjelas peran organisasi non-negara dalam agenda prioritas nasional. Alih-alih hanya menjadi penonton atau pengkritik, Muhammadiyah memilih hadir sebagai pelaku aktif yang turut menanggung tanggung jawab moral atas kualitas generasi bangsa.

Ke depan, efektivitas kolaborasi antara pemerintah dan Muhammadiyah dalam program MBG akan sangat bergantung pada komitmen kedua pihak untuk terus berbenah. Bukan hanya memenuhi target distribusi, tetapi memastikan setiap piring makanan yang sampai ke tangan penerima manfaat benar-benar memenuhi standar gizi yang bermartabat.

Karena pada akhirnya, investasi terbaik sebuah bangsa bukan pada infrastruktur fisik semata, melainkan pada tubuh dan pikiran generasi yang akan mewarisi masa depannya.

FAQ

Apa peran Muhammadiyah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Muhammadiyah berperan sebagai mitra strategis pemerintah melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial, sekaligus mendorong penguatan tata kelola dan transparansi program.

Apa tiga pilar utama yang ditekankan Muhammadiyah dalam pelaksanaan MBG?
Muhammadiyah menekankan standar keamanan pangan halal dan thayyib, tata kelola yang profesional dan transparan, serta pembangunan ekosistem pendukung yang berkelanjutan.

Bagaimana Muhammadiyah melihat kritik terhadap program MBG?
Muhammadiyah memandang kritik sebagai momentum perbaikan sistemik, bukan sesuatu yang perlu disikapi defensif, agar program semakin efektif dan tepat sasaran.



Follow Widget