Presiden Prabowo berangkat dari Jakarta sejak dini hari. Pesawat kepresidenan A-001 yang mengantarkannya lepas landas dari Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma sekitar pukul 06.00 WIB, dengan didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Begitu tiba di Gorontalo, rombongan presiden langsung menuju lokasi acara.

Yang menarik perhatian publik bukan hanya jumlah massa, tapi juga penampilan presiden sendiri. Prabowo tampil mengenakan upiya karanji, kopiah keranjang khas Gorontalo, saat memberikan arahan di hadapan ribuan petani dan nelayan. Penutup kepala kebesaran itu merupakan hasil anyaman tangan para petani pedesaan dari tumbuhan paku hata, yang oleh masyarakat lokal biasa disebut mintu.

Bukan presiden saja yang mengenakannya. Sejumlah menteri kabinet bersama jajaran pejabat pusat dan daerah turut kompak memakai upiya karanji, dipadukan dengan kain sulaman karawo, dua produk kerajinan unggulan Gorontalo yang dikerjakan langsung oleh pelaku UMKM di kawasan pedesaan. Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah menyebut langkah ini sejalan dengan program prioritas pengembangan UMKM lokal yang digagas Gubernur Gusnar Ismail bersama dirinya.

Bagi Idah Syahidah, perhelatan PENAS XVII bukan sekadar ajang silaturahmi petani dan nelayan, melainkan juga momentum bagi Gorontalo untuk memperkenalkan potensi daerahnya ke seluruh Indonesia. Sukses besar penyelenggaraan acara ini, menurutnya, menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemerintah daerah maupun seluruh masyarakat Gorontalo.

Skala acara ini memang tak main-main. PENAS XVII Tahun 2026 mengangkat tema soal transformasi teknologi untuk mendukung swasembada pangan nasional, dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai 50 ribu orang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari petani, nelayan, pemerintah daerah, organisasi profesi, penyuluh, akademisi, hingga pelaku usaha sektor pangan.



Follow Widget