Kini, 98 tahun kemudian, tantangan generasi muda tentu berbeda. Mereka tidak lagi berhadapan dengan penjajah, tetapi dengan derasnya arus informasi, polarisasi di ruang digital, dan godaan untuk memandang perbedaan sebagai ancaman. Dalam situasi itu, semangat para pemuda di Kramat 106 menjadi pengingat yang relevan.

Pelajaran terbesarnya barangkali sederhana. Persatuan tidak datang sebagai hadiah, melainkan harus diusahakan, dirumuskan, dan dijaga oleh setiap generasi. Para pemuda 1928 telah mengerjakan bagian mereka, dan estafet itu kini berada di tangan generasi hari ini.

Sumpah Pemuda pada akhirnya bukan sekadar bahan hafalan di buku pelajaran. Ia adalah janji yang terus diperbarui, untuk tetap menjadi satu di tengah segala perbedaan, dan untuk tetap bangga menjadi Indonesia.



Follow Widget