Sorenya, kongres berpindah ke Indonesische Clubgebouw untuk sesi ketiga. Soenario membuka dengan penjelasan tentang pentingnya nasionalisme dan demokrasi, di samping gerakan kepanduan. Ia menempatkan kepanduan sebagai bagian dari upaya membangun warga negara yang sadar.
Ramelan menyusul dengan uraian bahwa gerakan kepanduan tidak dapat dipisahkan dari pergerakan nasional. Sejak dini, kepanduan mendidik anak menjadi disiplin dan mandiri, dua bekal yang dibutuhkan dalam perjuangan. Latihan baris-berbaris, tali-temali, dan perkemahan ternyata menyimpan fungsi yang lebih besar daripada sekadar kegiatan mengisi waktu luang.
Theo Pangemanan menutup sesi dengan pernyataan yang lugas. Pandu sejati, katanya, adalah pandu yang berpijak pada semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air Indonesia. Tanpa itu, kepanduan kehilangan rohnya.
Rangkaian pidato tersebut menjelaskan mengapa kepanduan masuk dalam rumusan akhir kongres. Dunia kepanduan pada masa itu memang menjadi salah satu ruang pembentukan watak pemuda yang paling nyata. Tidak heran bila hingga kini gerakan Pramuka kerap mengaitkan sejarahnya dengan peristiwa ini.
Sebelum kongres ditutup, suasana ruangan berubah. Wage Rudolf Soepratman berdiri dan menggesek biolanya untuk membawakan lagu Indonesia Raya. Hadirin menyambutnya dengan antusias, sebab lagu itu terasa seperti milik semua orang yang ada di ruangan, bukan milik satu suku atau satu golongan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.