Momen itu kerap dikenang sebagai salah satu bagian paling mengharukan dari kongres. Biola Soepratman seolah memberi suara pada sesuatu yang selama ini hanya hidup sebagai perasaan. Lagu itu kemudian menjadi lagu kebangsaan negara yang belum lahir.
Penutup kongres datang lewat pembacaan keputusan oleh Sugondo Djojopuspito. Naskah itu dirumuskan oleh Muhammad Yamin dan dibuka dengan penjelasan bahwa kerapatan diadakan oleh perkumpulan pemuda berdasarkan kebangsaan, setelah mendengar pidato dan menimbang seluruh isi pembicaraan. Barulah kemudian lahir tiga butir keputusan yang menjadi inti ikrar.
Butir pertama menyatakan pengakuan bertumpah darah satu, yakni tanah Indonesia. Butir kedua menyatakan pengakuan berbangsa satu, yakni bangsa Indonesia. Butir ketiga menyatakan penjunjungan terhadap bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.
Ketiganya disusun dengan kalimat pendek, tegas, dan mudah diingat. Pilihan itu tampaknya disengaja, sebab ikrar ini harus bisa dihafal dan diulang oleh siapa pun, dari pelajar kota hingga warga kampung. Justru karena kesederhanaannya, rumusan itu bertahan hampir satu abad tanpa kehilangan daya.
Keputusan kongres tidak berhenti pada tiga butir tersebut. Hadirin menyatakan keyakinan bahwa asas itu wajib dipakai oleh segala perkumpulan kebangsaan Indonesia. Persatuan Indonesia juga dinyatakan diperkuat oleh lima dasar, yaitu kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, serta pendidikan dan kepanduan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.