JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Tuduhan diam menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan justru dibantah keras oleh Kementerian Kehutanan. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, Rabu, 21 Oktober 2026, menegaskan ribuan personel telah bergerak di lapangan jauh sebelum kritik Greenpeace Indonesia bergema di ruang publik.
Pernyataan itu muncul sebagai respons langsung atas serangan kritik dari Greenpeace Indonesia yang menuding pemerintah tak berbuat banyak di tengah kepulan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Bagi Kemenhut, tuduhan itu tidak hanya tidak adil, tetapi juga mengabaikan kenyataan pahit yang dihadapi ribuan petugas di garis depan.
“Kami menghormati kritik sebagai bagian dari pengawasan publik. Namun, anggapan bahwa pemerintah tidak bekerja mengabaikan fakta dan perjuangan petugas serta masyarakat di garis depan,” kata Rohmat dengan nada tegas.
Fakta di lapangan memang bicara lain. Kemenhut mengerahkan 1.419 personel Manggala Agni organik di enam provinsi prioritas melalui skema bantuan lintas wilayah. Tidak cukup di situ, sebanyak 1.000 Polisi Kehutanan juga dikirim ke Kalimantan lewat bantuan kendali operasi. Angka itu belum termasuk 5.000 aparatur sipil negara Kemenhut yang disiagakan penuh untuk mendukung operasi penanganan kebakaran.
Manggala Agni bukan satu-satunya yang berjibaku. Di lapangan, mereka bahu-membahu bersama Polisi Kehutanan, petugas taman nasional, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga kelompok masyarakat sipil. Masyarakat Peduli Api, Kelompok Tani Hutan, komunitas adat, dan relawan turut bergabung memadamkan api sekaligus melindungi warga yang terancam.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.