RENGASDENGKLOK, PUNGGAWANEWS – Di balik dinding lapuk yang hampir rubuh dan atap yang bocor kala hujan, seorang perempuan 65 tahun bernama Darsih menjalani hari-harinya dengan keteraturan yang menggetarkan hati. Rumahnya di Desa Cikangkung Timur, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, berdiri di tepi sungai yang belum juga dikeruk. Namun di dalam reruntuhan itu, piring-piring tersusun rapi di rak kayu, lantai bersih dari debu, dan pakaian dilipat dengan telaten.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menemukannya secara tak sengaja. Sore itu, dalam perjalanan menuju Jakarta, ia memilih mampir ke kawasan Rengasdengklok—menyapa warga di gang-gang kecil yang jarang tersentuh perhatian pejabat.

Ketika melangkah masuk ke rumah Darsih, Dedi berhenti sejenak. Ia tidak menyangka pemandangan di depannya: sebuah gubuk yang secara fisik hampir tidak layak huni, namun tertata sedemikian bersih dan rapi. “Rumahnya hampir roboh, tapi bersih. Ini orang baik,” ujarnya, terkagum-kagum.

Darsih sudah hidup sendiri sejak suaminya meninggal dunia pada 2007—sembilan belas tahun lamanya. Ia memiliki lima anak, namun kesehariannya ia jalani seorang diri. Untuk menyambung hidup, ia bekerja sebagai buruh kupas kacang di rumah tetangga. Satu kilo kacang menghasilkan Rp10.000. Dalam sehari, ia paling banyak bisa mengupas satu kilogram.

Penghasilan itu hampir tidak cukup untuk makan. Namun Darsih tidak mengeluh. Jika tak ada kacang yang bisa dikupas, ia mengandalkan belas kasih saudara yang sesekali memberinya makan. Ia menerima bantuan beras dari pemerintah, dan setiap bulan mendapat uang tunai Rp300.000 yang diambilkan oleh petugas pendamping karena ia tidak memiliki kartu ATM.

Dedi menelusuri setiap sudut rumah itu dengan seksama. Rak piring dari kayu sederhana tampak bersih dan teratur. Pakaian yang tersisa—tidak banyak—disimpan rapi meski lemari sudah tak bisa dikunci lagi karena kuncinya hilang. Di sudut ruangan yang lain, tergantung foto lama: Darsih muda bersama suaminya, keduanya tampak gagah dan cantik. Sebuah pengingat bahwa kemiskinan tidak datang sejak lahir.

“Dulu ibu tidak sesulit ini,” kata Darsih pelan. Suaminya bekerja sebagai pengelola organda setempat. Kehidupan berjalan cukup baik. Tapi waktu mengubah segalanya.

Rumah yang ia tempati kini berdiri di atas tanah warisan keluarga. Ada surat-suratnya, ada kikitir-nya. Namun kondisi fisik bangunannya sudah sangat mengkhawatirkan. Sebagian atap telah runtuh. Jika hujan turun, air menggenang masuk. Darsih tidur berpindah-pindah: saat kering, ia tidur di satu sisi ruangan; saat hujan, ia pindah ke bagian lain yang masih sedikit terlindung.

Rumah itu juga berdiri di tepi sungai yang rentan banjir. Program pengerukan sungai sudah direncanakan, namun belum terlaksana. Jembatan kecil di dekat rumahnya sudah dibongkar untuk persiapan pembangunan baru, namun sungai sendiri belum dikeruk. Akses jalan menuju rumahnya pun terbatas—tidak ada jalan yang memadai menuju tepi sungai itu.

Dedi tidak sekadar mengunjungi dan pergi. Di hadapan warga yang berkumpul, ia mengumumkan keputusannya secara langsung: rumah Darsih akan dibangun ulang mulai hari Rabu. Bukan dengan uang tunai yang diserahkan, melainkan dengan tim pekerja yang langsung turun tangan.

Rumah baru itu akan dibangun dengan model panggung—ditinggikan sekitar satu meter dari permukaan tanah agar terbebas dari banjir musiman. Selama proses pembangunan berlangsung, Darsih akan tinggal sementara di rumah kontrakan yang biayanya ditanggung Dedi. Ia memastikan ada pilihan sewa dengan harga terjangkau di sekitar desa itu.

“Nanti rumahnya dibangun panggung, supaya kalau banjir tidak kena. Kamarnya juga akan dibuat modern,” kata Dedi. Ia menggambarkan rencana itu dengan antusias, seolah ingin memastikan bahwa Darsih benar-benar bisa membayangkan perubahan yang akan segera terjadi.

Sebelum beranjak, Dedi juga menyinggung kondisi jalan provinsi yang melintasi kawasan Rengasdengklok. Ia menegaskan bahwa tahun depan jalan tersebut akan dilebarkan, dilengkapi drainase, CCTV, dan fasilitas pendukung lainnya. Warga diminta bersiap: siapa pun yang mendirikan bangunan di atas garis sempadan jalan akan ditertibkan.

Kunjungan itu juga diwarnai suasana yang mengharukan sekaligus hangat. Seorang warga tua yang dulunya penyanyi sinden tampil menyanyikan lagu-lagu Sunda klasik, disambut sorak-sorai warga yang memadati gang sempit. Dedi ikut bernyanyi, tertawa, dan bercanda bersama warga—momen yang tidak biasa untuk seorang gubernur yang sedang dalam perjalanan dinas ke ibu kota.

Namun di balik kehangatan itu, kisah Darsih meninggalkan pertanyaan yang lebih dalam. Di usianya yang sudah 65 tahun, dengan tubuh yang masih ia paksa bekerja mengupas kacang demi Rp10.000 sehari, ia tidak pernah meminta dikasihani. Rumahnya hampir roboh, tapi ia menyapunya setiap hari. Piring-piringnya retak di sana-sini, tapi ia mencucinya bersih.

Bagi Dedi, itulah yang paling membekas. Bukan sekadar kemiskinan yang ia saksikan—kemiskinan sudah terlalu sering ia temui dalam safari lapangannya. Yang membuatnya berhenti dan terdiam adalah martabat yang dijaga dengan susah payah oleh seorang perempuan tua yang tidak punya apa-apa selain hidup bersih dan semangat untuk tidak menyerah.

“Orang seperti ini harus dibantu,” katanya singkat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Kisah Darsih bukan sekadar cerita tentang kemiskinan. Ini tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap bermartabat di tengah keterbatasan yang luar biasa—dan bagaimana perhatian yang datang tepat waktu bisa mengubah segalanya.

FAQ

Siapa Ibu Darsih dan mengapa kisahnya menjadi perhatian publik?
Ibu Darsih adalah seorang janda berusia 65 tahun asal Desa Cikangkung Timur, Rengasdengklok, Karawang, yang hidup sendiri di rumah hampir roboh di tepi sungai. Kisahnya viral setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengunjunginya dan terkagum dengan kebersihan rumahnya meski dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Apa yang dilakukan Gubernur Dedi Mulyadi setelah mengunjungi rumah Ibu Darsih?
Dedi Mulyadi langsung memutuskan untuk membangun ulang rumah Ibu Darsih mulai hari Rabu setelah kunjungannya. Rumah baru akan dibangun dengan model panggung setinggi satu meter agar terhindar dari banjir, sementara Ibu Darsih tinggal sementara di kontrakan yang biayanya ditanggung.

Bagaimana kehidupan sehari-hari Ibu Darsih sebelum mendapat perhatian dari gubernur?
Ibu Darsih hidup dari hasil mengupas kacang di rumah tetangga dengan upah Rp10.000 per kilogram per hari. Ia juga menerima bantuan beras pemerintah dan uang tunai Rp300.000 per bulan. Jika tidak ada pekerjaan, ia mengandalkan pemberian makan dari saudaranya.



Follow Widget