Meski insiden berakhir tanpa korban, kejadian ini membuka mata banyak pihak terhadap potensi bahaya yang kerap luput dari perhatian. Di tengah musim haji yang berlangsung di bawah terik Makkah yang menyengat, penggunaan perangkat elektronik di dalam kamar hotel menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan.
Ihsan Faisal secara khusus mengingatkan seluruh jamaah untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan perangkat listrik. Ia menyarankan agar charger ponsel, pemanas air, maupun penghangat nasi segera dicabut dari stop kontak bila sudah tidak digunakan.
“Kalau sudah tidak digunakan lebih baik dicabut, seperti pemanas air, pemanas nasi, ataupun charger HP. Potensi risiko kebakaran di Makkah makin besar karena faktor cuaca di luar yang juga sangat panas,” kata Ihsan menegaskan.
Imbauan ini bukan sekadar basa-basi. Suhu udara di luar ruangan Makkah selama musim haji kerap menembus 40 derajat Celsius lebih. Kondisi ini membuat perangkat elektronik, terutama yang menggunakan baterai lithium, bekerja lebih keras dan lebih rentan mengalami panas berlebih.
Bagi ratusan ribu jamaah Indonesia yang masih berada di Tanah Suci, kesadaran akan keselamatan penggunaan listrik menjadi bagian penting dari kelancaran ibadah. Satu kelalaian kecil di dalam kamar hotel bisa berujung pada bencana yang jauh lebih besar.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.